Sabtu, 15 Oktober 2016

Dulu

Ada yang salah dengan hatiku. Bukankah berada disisimu adalah keinginan terbesarku? Bukankah memintamu untuk bersama, menjadi candu untukku? 

Biasanya, berkali-kali kau buat aku jatuh pada cinta hanya dengan sekedar sapamu saja. Biasanya, berkali-kali kau jatuhkan, tetap saja aku menatapmu ada rasa yang menggebu. Biasanya, aku selalu menerimamu pada kesalahan yang sama. 

Namun, kini ada yang berbeda. tak ada lagi hati yang berdegup kencang ketika kau sapa. tak ada lagi hati yang meronta ketika kau menggoreskan setiap ingkarmu. mungkin memang kau perlahan tak menjadi yang utama disetiap bait puisiku.

Maafkan aku

Aku tak pernah meletakkam janji apapun padamu. Aku memang pernah berkata bahwa mencintaimu adalah yang terindah bagiku dan bahwa mencintaimu aku butuh.

Namun bukan berarti bahwa lelah tak akan pernah menghampiriku. Ia akan datang beriringan dengan rasa sakit yang berkali-kali kau undang, ia datang tanpa mengenal waktu.

Maafkan aku jika kini aku tak semenyenangkan dulu, yang kutau aku pernah mati-matian memahami segalamu. Namun kau tak pernah menetapkan hatimu pada salah satu. Seandainya kejujuran tak dapat melukaimu.

Ini harap terakhirku

Semoga sesal tak datang menghampirimu. Semoga kau mematikan rasamu. Agar menyakiti dan disakiti taklagi menghantui aku dan kamu.

Maaf, dari aku yang mencintaimu,

dulu.



Source: https://steller.co/s/62DVNLn83ej

Sabtu, 17 September 2016

365

Bahwa dalam 356 hari, bahagia tak selalu berpihak. Kita dipertemukan bukan karena keinginan kita dipertemukan, tetapi karena sebuah kebetulan. Seandainya aku tidak meng-iya-kan tawaran saat itu, kupikir sampai detik ini tak akan ada kisah yang kuceritakan hari ini. Kala itu dibenakku adalah, bagaimana caranya bahagia dengan separuh hati yang masih meronta. 

Kini, menunggu kedatanganmu, rasa-rasanya ada yang sedang memukul jantungku. Degupnya berdetak lebih cepat dari biasanya, aku takut jika yang aku rasa adalah cinta.
Aku menyangkalnya, namun setiap kali aku menyangkalnya aku selalu kalah dengan rasaku sendiri.

Kubiarkan senyum-senyum kecil itu menjadi sebuah kisah hingga waktu tiba bersama hati yang sempurna.

Aku mengetahui fakta bahwa kau memiliki rasa yang sama dengan apa yang aku rasa.
“Apa ini cinta ya?” tanyaku padanya.
“Ah, tapi tidak mungkin, masa laluku masih menghantui.” Lanjutku.
“Masa lalumu akan hilang jika kaumenemukan orang baru dihidupmu.”
“Aku hanya mengatakan apa yang kurasa, aku tak berharap banyak”.

Mungkin bagiku mudah untuk jatuh cinta, namun untuk menempatimu dalam ruang tersendiri itu bukan perkara mudah untuk hati yang masih terluka.

Aku tak mengutarakan keberanianku ini padanya karena aku beranggapan bahwa dia pun memiliki rasa yang sama denganku. Entah aku benar, atau itu hanya sekedar harapku.

Yang terbahagia adalah aku, yang paling bahagia adalah kita. Kita sama – sama saling mengetahui perasaan kita.

Kini, menatapmu, aku tak perlu lagi diam – diam. Kini, aku tak perlu lagi berpura-pura tak cinta. Kini, aku dan kamu adalah kita.

Yang sempurna bukan kamu, tetapi cinta yang hadir setelah aku berdamai dengan luka.

Sayang, jangan bawa aku kelautan luka yang lebih dalam. Aku percaya bahwa kaulah yang selanjutnya akan menjadi bahagiaku. Aku tak bisa menjanjikan cinta yang sempurna, namun percayalah kau adalah orang pertama yang membuatku bahagia setelah lama airmata menghujani hariku.

Bahagiaku, suatu saat kau akan menjadi penyebab utama dibalik setiap sendu yang mengharu biru.

“Tidak, aku tak akan pergi. Aku mau berjuang apapun keadaannya.” Katamu.
Biarkan masa lalumu tetap berada di singgasananya, dia pernah berjuang untukmu, namun kau menyia-nyiakannya. Sekarang, dia akan memperjuangkan masa depannya; tanpamu.

Sembunyikanlah apa yang ingin kausembunyikan. Aku siap untuk berada di titik  terendah, meninggalkan apa yang tak perlu aku pertahankan.

Menjadi yang baik bukan perkara yang mudah, menjadi pemaaf tidak semudah meminta maaf. Aku harus berdamai dengan segala hal yang menyerap penyebab luka, aku harus berdamai dengan sakit yang tak bisa aku kemas dengan sempurna, dan aku harus berdamai dengan pikiranku.

Aku menjadi baik hanya untuk menjaga apa yang harus kujaga, agar aku tak menyesal ketika apa yang tak pernah kujaga memilih untuk meninggalkanku, apalagi merusak kebahagiaan seseorang yang pernah menjadikanku bahagianya dan mulai menyakiti penyebab bahagia baru.

Kita berada pada bahagia tanpa menduga sebelum kehilangan menjadi ketakutan terbesar yang pernah ada, kita berada pada bahagia yang sempurna sebelum segala ketakutan datang menjelma.

Kepada siapa kau akan berusaha jika yang kau perjuangkan mulai mematikan hatinya?
Pernah aku mencintaimu begitu menggebu, mematahkan segala kebencianku akan cinta, sebelum akhirnya kautaburkan racun pada bahagiaku.

Kubiarkan kau memahamiku lebih dalam, ku persilahkan kau untuk datang, menerimamu untuk singgah, padahal saat itu aku masih merangkak menyembuhkan luka.

Kupikir kau adalah dewa, menaburkan segala kebahagiaan pada luka yang belum kuhapuskan. Kepadamu aku percaya bahwa kau penyembuh luka, kepadamu aku percaya bahwa kau adalah bahagia. Namun aku salah, kau bukanlah dewa, kau adalah aku, kita sama; manusia. Pembawa harapan, penabur kecewa, dan pengharap bahagia.

Apa kautau seberapa menyakitkan ketakutan itu?

Pernahkah kau mencintai seseorang begitu dalam sampai kauberpikir untuk menyakiti dirimu sendiri, terdengar gila, kan? Ya, seharusnya kaupun rasakan itu, ketakutan akan kepergianmu, ketakutan akan hilangnya cintamu, ketakutan akan dirimu, dan ketakutan akan masa lalumu. Jika kaujadi aku, mungkin kau akan menyerah, tapi tidak denganku, mencintaimu adalah satu-satunya alasan mengapa aku masih tetap tinggal.

Mungkin aku terlalu berlebihan ketika mencintai seseorang, caraku mencintaimulah yang membawaku pada rasa sakit terdalam, caraku mencintaimu membawaku pada delusi yang dapat menghancurkan aku. Bagaimana aku menjelaskannya? Setiap kali aku mencintai seseorang aku selalu takut akan kepergiannya, takut ada pengkhiatan yang menjelma dalam bahagia. Bagaimana agat kautau segala rasa yang sekarang aku rasa?

Aku yakin, mungkin diluar sana banyak sekali yang mencitaimu, mencintai sikapmu, mencintai segala kebaikanmu, dan mereka akan secara terang-terangan menunjukkan padamu atau mungkin diam-diam mendoakanmu, tidak seperti aku yang pura-pura tak peduli padahal aku amat menginginkanmu.

Kaupun sebut aku mementingkan perasaanku, aku ingin egois sepertimu, aku ingin menjadi egois seperti kebanyakan wanita yang secara terang-terangan meminta kaudalam doanya, aku juga ingin egois memintamu untuk tetap tinggal tanpa harus memikirkan apa yang kaurasa. Tapi jika menjadi egois dapat membuat kauterluka akan kubiarkan kau memenangkan egomu.

Pahamilah sayang bahwa tidak hanya kau yang terluka, tapi juga aku yang sejatinya mencintaimu terlalu dalam.

Kau pendusta yang sempurna, sedangkan aku hanya orang bodoh yang mempercayai kesempurnaanmu.

Aku mempersilahkan kamu masuk ke dalam, bukan mempersilahkanmu mengacak-acak apa yang sudah aku rapikan, apalagi menggoreskan yang sudah menganga.

Ajak aku terbang lebih tinggi, kemudian hempaskan aku ke dasar bumi dengan beralaskan jeruji besi. Jika itu membuatmu tenang dan menang, aku terima.

Hatiku selalu mengajakku menelurusi lorong kenangan, namun logikaku berkata jangan. Mungkin sejatinya memang aku hanya sampai di batas kagummu saja.

Mari kita memulai permainan yang kau buat ini, jangan salahkan aku jika kaukalah, nikmatilah setiap kekalahannya dengan rasa sakut yang menggerogoti pikiranmu, mematahkan bahagiamu, dan mengahntui setiap kau memejamkan matamu.

“Aku pergi dan terimakasih atas 365 hari yang indah sekaligus menyakitkan ini”

Aku tidak tau apa yang kamu rasa saat ini, resah karena perbuatanmu sendiri, yang aku tau adalah sikapmu tak seindah ceritamu. Mungkin setia yang kamu ceritakan bukan untukku, mungkin sikap baik yang kamu ceritakan selama ini, hanya untuk wanita sebelum aku, dan mungkin semua hanya menjadi sebuah cerita tanpa pernah menjadi nyata.

365 hari yang lalu, aku menatap senyumanmu seolah hanya untukku. Namun, hari ini senyumanmu tak lagi untukku.

365 hari yang lalu, kau begitu menggebu saat menceritakan kisahmu, kisah yang ternyata mengantarkanku pada kecewaku.

365 hari yang lalu, kejujuran menjadi yang utama, namun hari ini kejujuran sudah tak ada lagi artinya.

365 hari yang lalu, waktu terus berdetik membawa kita dalam perjalanan yang sama, menggenggam harapan, namun dalam malamnya kaurampas harapan yang kugenggam, lalu kau berpura-pura merasa seperti yang aku rasa, sebelum akhirnya kau memutuskan ke arah yang berbeda.

Segala hal dapat berubah dalam 365 hari, begitupun dia yang sampai detik ini aku masih mencintainya. Dia sekarang dipenuhi goresan disetiap sikapnya.

Aku tidak lagi mengenalnya.

Terimakasih kautelah mengantarkan aku pada perjalanan yang sempurna ini, selamat bahagia dengan apa yang kaupilih.

Source : https://steller.co/s/5b2x8UWrRkm

Senin, 29 September 2014

Selamat ulangtahun, kamu.

Sebelum hari ini berubah jadi kemarin, aku hanya ingin mengucapkan rasa syukurku karena bisa mengenalmu sejauh ini, walaupun pada akhirnya kita tak saling berkenalan sejauh yang kuharapkan. Kepergianmu yang tanpa isyarat itu benar-benar membuatku seakan kehilangan udara. Aku yang sibuk mencari oksigen kebahagiaan seakan kausemburkan asap rokok penuh racun agar semakin merusak paru-paruku. Anehnya, meskipun kamu menyakitiku, aku tak pernah memilih untuk menjauhimu. Bodohkah aku? Ah, kamu tentu tau, Sayangku, wanita bodoh, yang sedang jatuh cinta, tak pernah memikirkan kebodohannya, ia hanya tau yang ia sebut pengorbanan. Pengorbanan  yang mungkin terbungkus secara gaib, pengorbanan yang mengatasnamakan; cinta.


Kamu semakin dewasa dan kuharap beberapa sikapmu bisa berubah. Meskipun mustahil bisa dekat denganmu lagi, meskipun hanya mimpi bisa kembali menggenggam jemarimu, aku hanya ingin berharap suatu hari nanti kaubisa berdiri sendiri, dengan kekuatanmu sendiri, dan aku disini hanya bisa menatapmu dari jauh, menangis dian-diam, dan menyebut namamu dalam setiap doa panjangku. Tak ada yang lebih masuk akal saat ini, aku hanya bisa mendoakanmu dan berharap Tuhan masih ingin mengasihaniku hingga menarik tubuhmu yang begitu jauh agar segera mendekat ke arahku. Aku ini telah kaubuat begitu gila, hingga aku tak tahu apakah sosokmu memang pantas diperjuangkan atau ditinggalkan saja seperti kamu dengan mudah meninggalkanku. Sayangnya, menjadi perempuan yang tega dengan orang yang sangat ia cintai bukanlah hal yang mudah. Dan, meninggalkanmu walau sesaat bukanlah hal yang gampang yang bisa kulakukan.

Perasaan ini, Sayang, seperti letupan keras yang bersuara tapi tak bergema. Aku pernah ada, namun untuk selanjutnya aku tak jadi siapa-siapa untukmu. Aku lenyap dalam jutaan pujian dari sekian banyak orang yang menggilaimu. Sekarang, aku kembali jadi perempuan yang kesepian, yang menunggu ksatrianya pulang dari perang. Pernah aku ikhlas melepaskanmu dan hal itu membuatku menyesal sepanjang waktu, mengapa dulu ta kutahan saja kaupergi, agar aku takkausakiti begini?


Sayang, bukan aku ingin mengemis, sungguh kautentu tahu. Aku perempuan yang takut untuk bicara, aku hanya bisa menumpahkan semua kekesalanku, kesakitanku, dan rasa bersalahku dalam tulisan. Aku tak tahu siapa yang salah dan aku tak ingin tahu apalagi menyalahkan siapa yang sesungguhnya harus bertanggung jawab atas semua perih yang kuterima. Tapi, aku mencoba tegar menghadapi ini semua, karena aku yang memilih untuk memperjuangkanmu, aku yang memilih mecintaimu, aku yang memilih berdarah-darah untukmu.


Tak akan kusalahkan siapapun. Tak akan kusalahkan kamu, mereka, apalagi dia. Sebagai wanita yang tak bisa apa-apa, izinkan aku memberi lambaian tangan terakhir untuk mengikhlaskanmu pergi, sekarang atau selamanya. Biarkan aku jadi wanita yang sabar menanti, meskipun kutahu kautak akan membuka pintu pagar dan memelukku sembari mengucapkan rindu dengan suara yang pelan serta sedikit kaku. Biarkan aku jadi perindu, yang sabar menunggu, meskipun kutahu, ksatriaku tidak pernah meminta untuk ditunggu.


Selamat ulangtahun, pria pembawa tawa. Terimakasih telat singgah. Terimakasih pernah hadir. Terimakasih untuk banyak hal yang tidak cukup hanya sekedar dihargai dengan kata terimakasih.


Kalau mau pulang, pulanglah. Berhentilah bertempur, Sayang, kamu butuh pelukan.


-dwtsr

Jumat, 29 Agustus 2014

Bisakah Kaubayangkan Rasanya jadi Aku

Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam.

Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu ternyata tak terjadi, pertama kali aku melihatmu; aku tau suatu saat nanti kita bisa berada distatus yang lebih spesial. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan dihatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia.... dulu.

Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kaugubris. Kamu disampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan benar-benar tak kaurasakan. Kamu berada didekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas. Apakah kamu benar tidak memikirkan aku? Bukankah kata teman-temanmu, kamu adalah perenung yang seringkali menangis ketika memikirkan sesuatu yang begitu dalam? Temanmu bilang, kamu melankolis, senang memendam, dan enggan bertindak banyak. kamu lebih senang menunggu. Benarkah kamu memang menunggu? Apalagi yang kautunggu jika kausudah tau bahwa aku mencintaimu?

Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap hari. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kautersenyum setiap hari, tapi ternyata harapku terlalu tinggi.

Semua telah berakhir. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kaujujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhentikarena aku merasa tak pantas lagi berada di sisimu. Sudah ada seseorang yang baru, yang nampaknya lebih baik dan sempurna daripada aku. Tentu saja, jika dia tak sempurna--kautak akan memilih dia menjadi satu-satunya bagimu.

Setelah tau semua itu, apakah kamu pernah menilik sedikit saja perasaanku? Ini semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas karena akhirnya kamu sibuk dengan kekasihmu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir dan aku tidak boleh lagi berharap jauh.

Jika aku bisa meminta langsung pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu, tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.

Kalau kauingin tau bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkataan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.

Setiap aku melihatmu dengannya; aku selaluberusaha menganggap semuanya baik-baik saja. Semua akan berakhir seiing berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun... sampai kapan aku harus mencoba?

Sementara ini aja, aku tak kuat melihatmu menggenggam jemarinya. Sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu mencintaiku ternyata malah memilih pergi bersama yang lain. Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu kemudian mencari pengganti.

Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku tak tau apa salahku sehingga kita yang baru saja kenal, baru saja mencicipi inta, tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri tanpa teman dan kekasih?

Aku menulis in ketika mataku tak kuat lagi menangis. Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, meskipun tak pernah benar-benar tinggal. Seandainya kautau perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu akan berbalik arah--memilihku sebagai tujuan. Tapi, aku hanya persinggahan, tempatmu meletakan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.

Semoga kautau, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari, ketika klihat kamu bersama kekasih barumu. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.

 Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tau bagaimana perasaan orang yang mencintainya? Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku yang setiap harus melihatmu dengannya?

Bisakah kau bayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari manahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?

Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa.

-repostdwtsr

Rabu, 14 Mei 2014

Senyata apakah kamu?

Ternyata, perkenalan bertahun-tahun tak menjamin cinta bisa hadir. Juga tatap muka yang begitu sering tak menjadi pembuktian, bahwa cinta akan tumbuh tanpa diminta. Dulu, aku selalu percaya itu. Bahwa cinta butuh tatap mata, bahwa cinta butuh perjumpaan nyata. Dan, cinta butuh sentuhan ringan, mungkin pelukan, kecupan, atau sedikit bisikan yang menggelitik telinga. Awalnya aku percaya itu semua, sampai pada akhirnya aku mengenalmu.

Begini, semua terjadi tanpa kita minta bukan? Kita juga tak berencana untuk saling mengenal. Semua terjadi. Begitu saja. Tanpa pernah kita mengetahui kelanjutan perkenalan singkat ini. Tulisan adalah modal awal, setidaknya untuk saling mengenal. Aku tau ini bodoh, terlalu banyak perasaan asing yang mulai meremas dan menguras hari-harimu dan hari-hariku. Ada banyak cerita yang sepertinya tak mampu lagi diwujudkan dalam kata, karena terlalu rumit untuk dijelaskan bahwa untuk dilisankan. Perasaan itu seperti berlomba-lomba merusak otak dan hati, hingga bibir kita kelu dan malu-malu untuk menyebutnya... rindu.

Karena terbiasa dengan sapaan ringanmu yang berwujud pada tulisan sederhanamu, karena mulai nyaman pada sapa hangatmu di ujung telepon, kau dan aku seperti menemukan satu hal yang selama ini sempat hilang. Begitu tergodanya kita pada dunia yang tak tersentuh jemari itu, hingga segalanya berlanjut pada komunikasi intensif dibumbui rasa cemburu. Pantaskah jika aku dan kamu mencapai titik ini? Terlalu cepatkah jika kita menyebutnya cinta?

Oke, lupakan, aku tau kamu sangat benci berbicara tentang hal yang serius. Seperti yang kaubilang dalam perkenalan awal kita "Have fun! Hilangkan kesepian!" Iya, menghilangkan kesepian, perasaan yang telah lama membelenggu kita berdua. Aku dan kamu sedang berusaha menghilangkan kesepian, dan ketika bertemu (walau tak sengaja) ternyata dinding kesepian seperti runtuh pelan-pelan, tanpa pemaksaan.

Benar, kita tak saling memiliki. Benar, semua terjadi seperti mimpi. Benar, semua (mungkin) hanya ilusi. Kita terjebak situasi, dan terlalu percaya bahwa cinta telah hadir ditengah-tengah kita, mengisi sudut-sudut hati yang sempat dingin. Aku menganggap segalanya hanya permainan, yang suatu saat akan berakhir; entah dengan akhir yang kusukai atau kubenci. Tapi, bisakah jemariku mengendalikan akhir dari permainan? Atau aku pasrah saja pada keinginanmu... untuk melanjutkan atau mengakhiri aegalanya.

Jika semua hanya permainan, jika semua hanya berkaitan dengan yg instan, tapi mengapa kauseperti memperhatikanku dengan perhatian yang mendalam? Apabila semua hanya ilusi, mengapa kauselalu datang dan kembali ke mari? Apakah ada hal spesial yang membuatmu terus ingin berlari ke arahku? Tapi, mengenaskan juga jika sebenarnya hanya aku yang memperlakukan semuanya dengan serius. Dan, ternyata kamu memang sedang bermain-main, sedang meloncat dari satu hati ke hati lainnya.

Sungguh, aku tak pernah percaya tentang cinta tanpa tatapan mata juga tanpa genggaman tangan yang belum saling bersinggungan. Tapi, entah mengapa, aku merasa takut kehilangan.

*postby:dwtsr*

Bukan kisah yang terlalu penting

Aku masih merasakan sesak yang sama. Aku tau bahwa pada akhirnya aku akan sesedih ini, aku berusaha menghindari airmata sekuat yang aku bisa. Tapi, kautau, aku adalah wanita paling tidak kuat menahan kesedihan. Kamu mendengar ceritaku tentang pria itu kan? Aku selalu bercerita padamu tentang dia. Seberapa dalamnya perasaanku, seberapa kuat cinta makin menerkamku, dan seberapa hebat senyumnya bisa sebegitu menguhkan langkahku.

Kamu tentu tau seberapa dalam perasaanku padanya dan betapa aku takut perbedaan aku dan dia menjadi jurang. Aku tak pernah memikirkan perpisahan selama ini, tapi ternyata hal yang begitu tak ingin kupikirkan pada akhirnya terpaksa masuk otakku. Aku dan dia tak lagi seperti dulu, dan tawanya tak lagi serenyah dulu. Aku tak tau perubahan macam apa yang membuat sosok pria itu begitu berbeda.

Dari semua sikapku, tak mungkin kautak tau aku punya perasaan lebih padanya. Dari semua ceritaku, tak mungkin kautak paham bahwa aku mulai jatuh cinta padanya. Aku terlalu banyak diam dan memndam, mungkin disitulah kesalahanku. Terlalu egois mengatakan dan terlalu takut mengungkapkan. Aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa dan tak bisa mengkambinghitamkan siapapun. Bukankah dalam cinta tak pernah ada yang salah?

Mengetahui kenyataan yang mencekam seperti itu, aku jadi malas tersenyum dan berbicara banyak tentang perasaanku pada orang lain. Aku malah semakin belajar untuk menutup rapat-rapat mulutku pada setiap perasaan yang minta diledakkan lewat curhat-curhat kecil.

Berbahagialah kamu bersama pria itu, pria yang selalu kubawa dalam cerita-ceritaku. Pria yang bagiku terlalu tinggi untuk kugapai dan terlalu misterius untuk kumengerti jalan pikirannya. Setiap melihatmu dengan pria itu, aku berusaha meyakinkan diriku; bahwa aku juga harus ikut berbahagia melihatmu dengannya. Sejatinya, cinta adalah ikhlas melihat orang yang kucintai bahagia meskipun ia pernah menjadikanku pilihan satu-satunya.

Tenanglah, aku sudah mulai melupakannya. Sudah ada seorang pria baru, yang tak begitu kucintai, tapi kehadirannya bisa sedikit mengundang senyum dibibirku. Aku tak tau, apakah perasaanku pada pria baru itu adalah cinta. Aku tak berusaha memahami, apakah hubungan yang kami jalani selama ini adalah ketertarikan sesaat atau hanya sarana untuk menyembuhkan luka hatiku? Kami tertawa bersama, menghabiskan waktu berdua, tapi segalanya terasa biasa saja. Tak ada ledakkan yang begitu menyenangkan ketika aku bertatap mata dengannya.

Pria yang selalu kuceritakan padamu, yang kini telah menjadi kekasihmu, selalu berbentuk gumpalan bayang-bayang di otakku. Semakin aku berusaha melawan,  semakin aku tak bisa menerima bahwa segalanya tak lagi sama. Aku tak ingin ingatanku dan perasaanku yang dulu begitu besar pada masa lalu menjadi penyiksa untuk pria baru yang ingin membahagiakanku kelak. Aku hanya berusaha mengerti yang terjadi dan berusaha pasrah dengan kenyataan yang memang harus kuketahui. Aku tak ingin dibohongi oleh kesemuan yang membahagiakan, lebih baik kenyataan yang memuakan tapi penuh kejelasan.

Aku mohon, jagalah pria itu dengan susah payah, dengan sekuat tenagamu. Aku ingin kebahagiannya terjamin olehmu. Aku ingin dia bahagia bersamamu. Disini, aku tak bisa berbuat banyak, selain membantu dalam doa.

Aku tak sempat membuat dia tersenyum. Tolong, inilah permintaanku yang terakhir, setelah ini aku tak akan mengganggumu; bahagiakan dia, buatlah dia terus tersenyum, danbiarkan saja dia tak tau ada seseorang yang terluka diam-diam disini.

*postby:dwtsr*

Jumat, 04 April 2014

Cinta Pertama Itu ...

Untukmu, pria yang kubenci sejak kelas 3 SD, namun begitu kucintai saat kelas 6 SD.

Boleh basa-basi sedikit? Sudah berapa lama ya kita tidak bertemu? Bagaimana wujudmu saat ini? Masihkah pipimu merah ketika cahaya matahari mencium lembut pipimu? Masihkah rambut lucu ketika keringat membasahi tempurung kepalamu? Masihkah kamu membawa saputangan untuk membasuh keringatmu? Apakah semua telah berbeda?

Untukmu, si unik dengan senyum fantasi.

Aku bertanya-tanya, bagaimana sinar matamu saat ini? Masihkah sejuk dan beningnya seperti dulu? Seperti kala kita membagi bekal bersama. Saat anak-anak yang lain sibuk bermain, aku dan kamu malah duduk dibangku kelas, hanya berdua. Sambil mengunyah nasi yang masih penuh dimulutmu, kaubercerita banyak hal padaku. Sewaktu itu, kaumasih bercita-cita ingin menjadi polisi, dan aku bercita-cita ingin menjadi doktor. Mengingat kenangan memang indah, mampu membuat seseorang tersenyum walaupun masa itu tak akan pernah kembali.

Untukmu, yang sekarang entah berada dimana dan bersama siapa sekarang

Dulu, saat pertama kali bertemu, aku sangat membencimu. Aku benci ketika tau kau berada diranking dua dan aku diranking empat. Hey! Kaubuat gila! Sampai duduk di bangku kelas 6 pun, kita masih saja sekelas. Astaghfirullahaladzim Tuhan, siksaan apalagi ini? Tapi, entah mengapa, ada titik dimana kita tak seperti musuh, ada saat dimana kita tiba-tiba menjadi dekat, dan aku tak pernah tau mengapa rasa benci itu  berubah menjadi begini. Entah mengapa rasa iri itu berevolusi menjadi cinta dalam usia dini.

Saat paduan suara, aku tau kamu sering melirikku diam-diam, karena berkali-kali aku menangkap basah kamu sedang menatapku. Saat aku jadi pembawa bendera setiap hari Senin, kauselalu melihatku setiap langkahku, terselip senyum bahkan tertawa kecil. Hey! Saat itu kita masih dibangku sekolah dasar! Mengapa kauajarkan perasaan aneh itu padaku? Dulu ...  Kita masih terlalu dini untuk mengerti cinta, apalagi menafsirkannya.

Untukmu, yang mungkin tidak akan membaca tulisan ini

Sedang apa kamu disana? Apakah kaumasih ingat sosokku dan bentuk wajahku? Apakah kaumasih ingat banyak hal yang terjadi saat kita SD? Ah ... mungkin kau lupa, aku masih mengingat kenangan-kenangan itu karena aku punya perasaan yang berbeda denganmu. Entahlah ... mungkin perasaanmu tak sama dengan perasaanku.

Aku masih ingat perpisahan kita kala itu, saat legalisasi ijazah SD, kau mengucapkan selamat padaku, walaupun nilai kita rata-ratanya hampir sama. Yap! Saat itu juga kita membicarakan rencana sekolah saat SMP nanti, kita berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Langkahku dan langkahmu berhenti, kita saling menatap, jantungku bereaksi dengan hormon adrenalin, detaknya begitu kencang, kaumenggetarkan bibirmu, "Baik-baik ya, Shell"

"Iya, kamu juga ya" jawabku singkat, dengan lengkungan senyum dibibir.

Tanda pengungkapan. Lalu terpisah, dipersimpangan gerbang sekolah, karena berbeda arah.

dari seorang perempuan
yang tak pernah lupa tanggal ulangtahunmu
yang masih saja sering merindukanmu